KABARTASELA.ID, Jakarta — Bank Indonesia (BI) menghadapi pertimbangan kebijakan moneter yang pelik menjelang penetapan suku bunga acuan pada Oktober 2026. Tekanan pasar keuangan menguat menyusul wacana Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada 15 Oktober 2026 yang mengusulkan penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi standalone market, memicu koreksi IHSG hingga 11,57 persen serta menekan rupiah ke kisaran Rp 18.000 per dolar AS.
Kondisi ini memicu perbedaan pandangan di kalangan analis keuangan. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memproyeksikan BI berpeluang mengerek BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,00 persen. Berdasarkan estimasi model probabilistiknya, kans kenaikan suku bunga mencapai 63,1 persen, mempertahankan suku bunga di level 34,7 persen, dan pemangkasan hanya 2,2 persen.
"Angka tersebut mencerminkan probabilitas arah kebijakan, bukan kepastian keputusan ataupun besarnya kenaikan," ujar Josua, Rabu (21/10/2026).
"Perubahan perkiraan ini terutama dipengaruhi oleh memburuknya sentimen investor setelah pengumuman MSCI," lanjutnya.
Sebaliknya, Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky menilai BI condong mempertahankan suku bunga di angka 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur Oktober 2026, meski tetap mewaspadai depresiasi nilai tukar.
"Kami memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan Suku Bunga BI di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur Oktober 2026, sambil tetap bersiap untuk merespons jika tekanan terhadap Rupiah semakin meningkat," papar Riefky dalam analisisnya.
Riefky menyoroti adanya benturan prioritas kebijakan: pengetatan lanjutan dapat menopang rupiah, tetapi di sisi lain berisiko menekan permintaan domestik. Perbedaan evaluasi juga tampak pada data inflasi September 2026 sebesar 3,28 persen (y.o.y). Riefky melihat inflasi mulai mendekati batas atas target BI (1,5%–3,5%), sementara Josua memandang angka tersebut masih aman, didukung inflasi inti 2,84 persen.
Josua menambahkan, opsi kenaikan 25 basis poin dinilai lebih terukur dibanding 50 basis poin, mengingat pertumbuhan ekonomi kuartal II melambat ke 5,29 persen dan BI sebelumnya sudah menaikkan 100 basis poin pada Mei–Juni 2026. Namun, pengetatan lebih tajam tetap tidak dikesampingkan apabila arus modal keluar terus memburuk.










