29°C
🕌 Dzuhur11:56
Tasela TerkiniBreaking News

20 Tahun Terisolir, 300 KK di Buniayu Cipatujah Menanti Kepastian Aspal Jalan

Warga Dusun Buniayu, Desa Cikawungading, Cipatujah terpaksa melakukan perbaikan jalan secara swadaya akibat tak kunjung mendapat perhatian pemerintah.

Nathan S Fathurahman
Nathan S Fathurahman
Redaktur / EditorMinggu, 23 Agustus 2026 • 05:52 WIB
17x dibaca3 min baca
Estimasi baca: 4 menit
Akaes jalan rusak yang puluhan tahun warga dusun buniayu rasakan
Akaes jalan rusak yang puluhan tahun warga dusun buniayu rasakan
Single Article - Top Banner

CIPATUJAH, Kabar Tasela – Potret ketimpangan pembangunan infrastruktur masih terus membayangi wilayah Tasikmalaya Selatan (Tasela). Sebanyak 300 Kepala Keluarga (KK) di Dusun Buniayu, Desa Cikawungading, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, terpaksa harus bertahan hidup dalam kondisi terisolir selama lebih dari dua dekade akibat ketiadaan akses jalan yang memadai.

Akses jalan yang menghubungkan Kampung Neglasari (Buniayu) menuju Sukasari sepanjang kurang lebih 6 kilometer sejatinya merupakan urat nadi utama mobilitas warga menuju jalan nasional di pesisir pantai selatan. Namun, harapan agar jalur vital tersebut mendapatkan penanganan pengaspalan permanen hingga kini tak kunjung direalisasikan oleh Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya.

Usulan 20 Tahun Selalu Kandas

Tokoh masyarakat Dusun Buniayu, Ajengan Somantri, mengungkapkan bahwa aspirasi pembangunan jalan ini sudah tidak terhitung berulang kali diajukan sejak 20 tahun silam. Pengajuan telah disampaikan berjenjang, mulai dari Musrenbang tingkat Desa Cikawungading, Pemkab Tasikmalaya, hingga ke para wakil rakyat di DPRD Kabupaten Tasikmalaya daerah pemilihan (Dapil) 6.

Sayangnya, janji manis dan aspirasi yang diperjuangkan selalu kandas akibat alasan keterbatasan anggaran yang terus berulang dari tahun ke tahun.

“Akses Neglasari-Sukasari ini adalah jalur paling strategis yang memangkas jarak menuju jalan nasional. Jika jalur ini diaspal, keterisoliran warga Buniayu otomatis terbuka dan perekonomian pasti melesat,” ujar Somantri di sela-sela kegiatan korehab (gotong royong), Minggu (23/8/2026).

Somantri menambahkan, sebenarnya terdapat akses jalan lain melalui Dusun Klaksanan (Panti Laksana). Namun, jalur tersebut dinilai kurang efektif karena jalurnya jauh memutar serta kondisinya melintasi medan yang tak kalah rusak parah.

Iklan

Aksi Swadaya Perbaiki Jalan Bebatuan

Lelah hanya menerima janji tanpa kepastian, warga Dusun Buniayu akhirnya mengambil inisiatif melakukan perbaikan jalan atau korehab secara swadaya. Selama tiga bulan terakhir, setiap hari Sabtu, warga bahu-membahu meratakan bahu jalan yang terjal dengan alat seadanya dan memanfaatkan bebatuan sekitar.

Langkah nekat ini diambil agar jalur tersebut setidaknya dapat dilalui kendaraan roda empat, terutama saat situasi darurat seperti mengangkut warga sakit atau melahirkan.

Kampung Neglasari sendiri berada di atas puncak perbukitan tertinggi di wilayah Buniayu. Topografi yang terisolir membuat warga harus melintasi jalur ekstrem dengan kemiringan tajam. Mengendarai sepeda motor di jalur ini membutuhkan keahlian dan konsentrasi ekstra, terlebih saat musim hujan tiba ketika jalanan berubah menjadi licin dan membahayakan keselamatan jiwa.

Urat Nadi Ekonomi Warga Pelosok

Jalur Sukasari-Neglasari bukan sekadar jalan desa biasa, melainkan akses hidup yang beroperasi 24 jam. Jalur ini menjadi pendorong utama aktivitas perekonomian mayoritas warga lokal yang berprofesi sebagai penyadap gula kelapa, petani, dan pedagang.

Berikut adalah dampak strategis jika pembangunan jalan Neglasari-Sukasari direalisasikan:

  • Membuka Keterisoliran Wilayah: Menghubungkan langsung Dusun Buniayu dengan pusat pemerintahan Desa Cikawungading.
  • Memangkas Waktu Tempuh: Menjadi jalur pintas tercepat menuju jalan nasional di kawasan pesisir pantai selatan Cipatujah.
  • Interkoneksi Antardesa: Menghubungkan akses menuju Desa Darawati (Rancakangkung) hingga tembus ke jalan provinsi.
  • Peningkatan Ekonomi Lokal: Mempermudah distribusi hasil bumi dan gula kelapa milik warga menuju pasar kota.

Kini, masyarakat Dusun Buniayu sangat berharap Pemkab Tasikmalaya beserta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) tidak lagi berpangku tangan. Warga mendesak agar alokasi anggaran pembangunan dapat diprioritaskan untuk mengikis ketimpangan infrastruktur di kawasan pelosok Tasikmalaya Selatan ini.

Single Article - Bottom Banner
Suka artikel ini? Bagikan ke teman & keluarga:
Bagikan:
Nathan S Fathurahman
Penulis Berita

Nathan S Fathurahman

Redaktur / Editor Berita
"Editor berita dengan fokus pada verifikasi fakta, akurasi data, dan tata bahasa jurnalistik yang presisi. Bertugas memastikan setiap naskah berita disajikan secara tajam, berimbang, dan mudah dipahami oleh pembaca."
7 Artikel DiterbitkanBergabung 2 hari lalu

Berita Terkait Lainnya

Komentar Pembaca (0)

Tulis Tanggapan Anda

Sampaikan pendapat Anda dengan bahasa yang santun dan beretika.

Memuat komentar...

Mobile Sticky Bottom Anchor (320x50)
20 Tahun Terisolir, 300 KK di Buniayu Cipatujah Menanti Kepastian Aspal Jalan | Kabar Tasela