KABARTASELA.ID, BANDUNG — Sudut Jalan Bungur Nomor 37, Bandung, perlahan bertransformasi menjadi gerbang pelarian menuju masa silam. Di tengah sejuknya udara Kota Kembang, Ruang Putih yang biasanya sarat dengan dinamika kreatif masa kini, mendadak lebur dalam keheningan syahdu. Ruang terbuka berarsitektur hangat itu disulap menjadi panggung puitis nan intim bertajuk Memory Lane, mempertemukan para pencinta melodi lintas zaman dalam satu dekapan harmoni.
Malam itu dibuka dengan anggun oleh Irma Basuki. Suaranya mengalun melantunkan tembang legendaris "Pasrah" milik Ermy Kullit, sang idola yang memandunya merajut karier vokal sejak 1988. Bagi Irma, kesederhanaan ketukan lagu-lagu tempo dulu justru menyimpan ruang eksplorasi tak terbatas untuk diramu kembali dalam balutan bossa, swing, hingga reggae.
"Lagu lawas itu bagus semua, walaupun terkadang iramanya monoton. Tapi justru itu letak keunikannya karena tinggal diganti saja ritmenya, create your own music,"
Melangkah lebih dalam, aroma khas kertas tua dan deretan rilisan fisik menyambut para penjelajah memori. Kaset pita analog, piringan hitam, hingga majalah antik tersusun rapi di lapak-lapak kurasi. Natasha, koordinator acara, menuturkan bahwa gelaran ini dirancang khusus untuk memikat generasi muda lewat pendekatan genre yang tengah diminati, seperti pop creative.
"Mungkin baru terasa influence-nya di minggu ini karena kita juga lagi nyoba approach yang beda, di mana kita nyari pasar musik lawas yang niche-nya lagi naik di kalangan anak muda, contohnya pop creative,"
Di antara pengunjung, Sandy, seorang pemuda asal Bandung, asyik mengamati piringan hitam. Memori masa kecilnya terpanggil saat mendengarkan kembali karya Franky and Jane hingga Dian Pisesha yang dahulu kerap diputar oleh orang tuanya. Menurutnya, mendengarkan format analog menghadirkan kepuasan batin tersendiri.
"Kalau perbedaan experience dari segi suara sih jelas ya, dan juga untuk analog atau vinyl dan kaset tuh kita lebih mengapresiasi musisi tersebut,"
Semangat pelestarian ini dirasakan nyata oleh Mumu dan Rangga, pegiat lapak kaset lawas dan vinil jaz. Mereka mengamati minat anak muda kini merentang luas dari Sheila on 7 hingga Led Zeppelin. Mumu menegaskan bahwa merawat rilisan fisik sejatinya sangat bersahaja, asalkan tidak dibiarkan membisu.
"Pada umumnya sih gak perlu perawatan khusus. Justru harus sering dimainkan dan didengarkan. Kalau misalkan disimpan saja barang apapun juga bakal ada kadaluarsanya,"
Mumu juga menaruh harapan besar pada edukasi keluarga agar warisan kultur ini tak punah, mengenang momen menggelitik saat seorang pemuda sempat mengira walkman miliknya adalah kamera analog.
Informasi dan Panduan Penjelajahan:
- Destinasi: Ruang Putih Creative Hub
- Alamat: Jalan Bungur Nomor 37, Kota Bandung, Jawa Barat
- Daya Tarik Budaya: Showcase musik lawas lintas generasi, bursa piringan hitam (vinil), kaset pita, serta memorabilia majalah antik
- Tips Perawatan Kaset Pita: Cukup simpan pada ruangan bersuhu stabil dan putar secara rutin agar pita tidak berjamur atau getas










