KABAR TASELA – Kebijakan penambahan kuota hingga 11 pemain asing di kompetisi Super League 2026/2027 sempat memicu perdebatan hangat di kalangan pecinta sepak bola tanah air. Menjawab keraguan publik, Direktur Komersial I.League, Sadikin Aksa, akhirnya membeberkan alasan strategis di balik keputusan krusial tersebut pada Rabu (2/9/2026).
Menurut Sadikin, penyesuaian kuota legiun asing tidak lepas dari target besar I.League untuk menaikkan kelas kompetisi domestik agar mampu bersaing secara adil di kancah Asia (AFC), sekaligus menjaga keberlanjutan finansial (financial sustainability) klub-klub peserta.
Tuntutan Standar AFC dan Peningkatan Daya Saing
Sadikin mengungkapkan bahwa dorongan utama regulasi ini sebenarnya berakar dari standar regulasi konfederasi sepak bola Asia (AFC). Menurutnya, klub-klub Indonesia tidak akan mampu berbicara banyak di turnamen internasional jika atmosfer dan intensitas persaingan di liga lokal tidak dibiasakan dengan hadirnya pemain asing berkualitas.
“Masalah pemain asing ini awalnya adalah regulasi daripada AFC, bukan dari kami. Dan kami punya target menaikkan kelas liga kita. Gimana kita mau bersaing di AFC kalau pemain-pemain lokal kita lawannya pemain-pemain asing semua di luar?” tegas Sadikin Aksa.
Ia menambahkan, data internal I.League mencatat adanya peningkatan kualitas permainan yang signifikan sepanjang satu tahun terakhir sejak kuota pemain asing diperluas. Menurunkan kembali kuota tersebut dinilai sebagai langkah mundur bagi perkembangan kompetisi nasional.
“Jangan salah, dengan kita sudah pemain asing ini setahun terakhir kualitas game kita naik, secara data. Apakah kita mau turunin lagi? Berarti kan kita turun,” ujarnya.
Realita Harga Pemain Lokal dan Stabilitas Finansial Klub
Selain faktor teknis di lapangan, pertimbangan ekonomi klub menjadi alasan fundamental lainnya. Sadikin secara terbuka menyoroti tingginya nilai pasar (market value) penggawa lokal, khususnya pemain berlabel Timnas Indonesia, yang kerap melebihi banderol pemain asing berkualitas.
Kondisi tingginya harga pemain lokal tersebut dirasakan cukup memberatkan kas klub yang berperan sebagai pemegang saham liga. Oleh karena itu, opsi merekrut pemain asing berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau menjadi solusi rasional demi menjaga kesehatan finansial klub.
“Mohon maaf sekali lagi, pemain-pemain Timnas Indonesia kita harganya lebih mahal daripada pemain asing. Sebagai pemegang saham untuk membuat sustain, pilih mana? Dengan kualitas pemain asing yang lebih murah, dikasih wewenang besar untuk bersaing ke luar, pilih yang lebih murah. Akhirnya apa? Itulah keputusan yang diambil,” tutur Sadikin.
League Cup Hadir Sebagai Wadah Pembinaan Pemain Lokal
Meski memberi porsi besar bagi pemain asing di Super League, I.League menegaskan tidak mengabaikan potensi pemain lokal dan proses pembinaan usia muda. Sebagai solusinya, pihak penyelenggara menggulirkan kompetisi pendamping yakni League Cup pada musim 2026/2027.
Melalui turnamen League Cup ini, para talenta lokal akan mendapatkan jam terbang dan ruang unjuk gigi secara maksimal untuk menjaga regenerasi sepak bola nasional.
Berikut adalah rincian fakta utama di balik regulasi pemain asing I.League musim 2026/2027:
- Harmonisasi Regulasi AFC: Menyesuaikan standar kompetisi tingkat Asia agar klub Indonesia siap bersaing di kancah internasional.
- Efisiensi Finansial: Menjaga kesehatan neraca keuangan klub dari melambungnya harga pemain lokal/timnas.
- Peningkatan Kualitas Laga: Data menunjukkan mutu pertandingan Super League meningkat signifikan dalam setahun terakhir.
- Kompetisi League Cup: Solusi penyeimbang untuk menjamin jam terbang dan pembinaan talenta muda lokal.
Sadikin menutup penjelasannya dengan menegaskan bahwa keputusan ini diambil demi membawa sepak bola nasional naik kelas dan tetap bertahan secara finansial di tengah tantangan industri olahraga modern.










