KABARTASELA.ID, JAKARTA — Miliarder teknologi, Elon Musk, kembali mencatatkan lonjakan nilai kekayaan yang fantastis. Hanya dalam kurun waktu satu hari, kekayaan pria berusia 55 tahun tersebut dilaporkan melonjak sebesar US$ 65 miliar atau setara dengan Rp 1.163 triliun. Pertumbuhan masif ini secara otomatis mengembalikan statusnya ke dalam jajaran elite triliuner dunia.
Berdasarkan data Bloomberg Billionaires Index yang dirilis pada Senin (6/10/2026), total kekayaan bersih Elon Musk kini telah menyentuh angka US$ 1,04 triliun, atau sekitar Rp 18.616 triliun (dengan asumsi kurs Rp 17.900 per dolar AS). Kenaikan drastis ini didorong oleh menguatnya performa saham dari dua perusahaan utamanya, yakni SpaceX dan Tesla Inc.
Sejak awal Oktober 2026, saham SpaceX tercatat mengalami peningkatan sebesar 13 persen, sementara saham Tesla menguat sebesar 6,7 persen. Kenaikan nilai saham kedua entitas ini berdampak sangat besar bagi portofolio Musk, mengingat kepemilikan sahamnya di SpaceX dan Tesla menyumbang lebih dari 98 persen dari total keseluruhan kekayaannya.
Selain laporan kinerja internal perusahaan, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh proyeksi positif dari lembaga keuangan global. Salah satunya datang dari penilaian analis pasar terkemuka.
"SpaceX merupakan salah satu cara termurah untuk mendapatkan eksposur terhadap 'strong optionality' di sektor antariksa dan kecerdasan intelijen."
Analisis dari Morgan Stanley tersebut turut memberikan dorongan kuat bagi pergerakan saham perusahaan yang bergerak di sektor antariksa, kecerdasan buatan (AI), dan media sosial tersebut. Kini, saham SpaceX dilaporkan telah memantul kembali (rebound) sebesar 58 persen dari level terendah mereka pada bulan Agustus lalu.
Di sisi lain, Tesla Inc. juga memberikan kontribusi positif setelah melaporkan angka penjualan kuartal ketiga pekan lalu yang melampaui estimasi para analis pasar.
Pencapaian ini menandai pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir kekayaan Elon Musk kembali menyentuh angka 13 digit. Sebelumnya, ia sempat menjadi triliuner pertama di dunia pada Juni lalu berkat lonjakan saham SpaceX pasca-penawaran umum perdana (IPO) yang memecahkan rekor. Namun, posisi tersebut sempat merosot pada akhir Juli hingga kehilangan lebih dari US$ 600 miliar dari titik puncaknya akibat kekhawatiran pasar terhadap valuasi SpaceX yang dinilai terlalu tinggi.










