KABARTASELA.ID, Bandung — Di antara hiruk-pikuk Jalan Braga dan kesibukan Jalan ABC, seakan ada sebuah pintu gerbang menuju dimensi yang berbeda. Langkah kaki yang awalnya diselimuti kebisingan kota, tiba-tiba diperlambat oleh pemandangan sebuah bangunan yang mencolok, memancarkan pesona warna merah, kuning, dan hitam yang begitu dominan. Bukan, ini bukan kelenteng dengan arsitektur tradisional Tionghoa yang mungkin Anda bayangkan. Ini adalah Masjid Al-Imtizaj, sebuah oase arsitektur yang menawan, berdiri anggun sebagai simbol akulturasi yang mengharukan.
Pandangan pertama seringkali memancing keheranan. Dinding-dindingnya yang kokoh dilapisi warna-warna berani, seolah sebuah lukisan hidup di tengah keramaian. Namun, di balik semaraknya rona tersebut, tersimpan makna yang dalam. Muhammad Yahya Azlani, Ketua DKM Masjid Al-Imtizaj, menjelaskan bahwa kombinasi warna merah, kuning, dan hitam yang mencolok itu bukan sekadar estetika, melainkan sebuah representasi kemakmuran dan harapan. Bahkan, nama 'Al-Imtizaj' sendiri merupakan sebuah penjelmaan filosofi pembauran, yang diadaptasi dari kata 'ronghe' dalam bahasa Mandarin.
"Masjid ini didirikan oleh mantan Gubernur Jawa Barat, Pak Nana Nuriana pada 2008 dan dibuka untuk umum sejak 2010 silam dengan harapan menjadi tempat berbaurnya budaya Tionghoa dan Islam," ujar Yahya belum lama ini.
Kisah kelahiran masjid unik ini bermula dari sebuah kepedulian. Bangunan megah yang kini berdiri tegak dulunya hanyalah sebuah pusat perbelanjaan. Mantan Gubernur Jawa Barat, Bapak Nana Nuriana, melihat kebutuhan akan tempat ibadah bagi umat Muslim di area tersebut yang kala itu masih minim. Dari kegelisahan inilah, muncul inisiatif mulia untuk menyulapnya menjadi sebuah rumah ibadah yang tidak hanya berfungsi spiritual, tetapi juga menjadi jembatan antarbudaya.
Memasuki ruangannya, nuansa akulturasi semakin terasa kental dan memikat. Lampion-lampion cantik bergantungan anggun, memancarkan cahaya hangat yang berpadu sempurna dengan kaligrafi Arab yang syahdu dan kaligrafi Mandarin yang estetik menghiasi setiap sudut dinding. Sebuah detail menarik lainnya yang mungkin jarang ditemukan di masjid lain adalah area wudu pria, yang dirancang sedemikian rupa menyerupai bentuk dupa, menambah kekhasan arsitektur Tionghoa dalam balutan fungsi ibadah Islam.
Meski sempat menjadi sentra pembinaan bagi mualaf keturunan Tionghoa, kini fokus kegiatan tersebut sebagian besar dialihkan ke Masjid Lautze di Jalan Tamblong karena fasilitas yang belum memadai. Namun, semangat pelayanan Al-Imtizaj tak pernah pudar. Masjid ini tetap konsisten menjalankan misi sosialnya, membuka pintu bagi siapapun yang ingin mendekat pada Islam.
"Karena fasilitasnya belum memadai. Jadi sekarang kami lebih cenderung melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat pelayanan pada masyarakat. Tapi kalau ada yang mau masuk Islam, tentu akan kami layani," kata Yahya.
Lebih dari sekadar keindahan visual dan arsitektur yang memukau, kehadiran Masjid Al-Imtizaj adalah sebuah doa dan harapan besar. Di balik dindingnya yang sarat makna, tersimpan pesan kuat tentang perdamaian dunia, sebuah seruan agar segala bentuk konflik kepentingan antar golongan dapat diredam melalui semangat kebersamaan dan persaudaraan yang tulus.
"Jadi, kita mengharapkan semuanya bisa berbaur untuk beribadah dengan penuh rasa persaudaraan," ucap Yahya.
Masjid Al-Imtizaj bukan sekadar tempat sholat; ia adalah sebuah mercusuar pembauran, pengingat akan indahnya harmoni dalam perbedaan, dan sebuah kisah nyata tentang persaudaraan yang tumbuh subur di jantung Kota Bandung.
Informasi Praktis:
- Lokasi: Dekat kawasan Braga dan Jalan ABC, Bandung.
- Didirikan: Oleh mantan Gubernur Jawa Barat, Nana Nuriana.
- Dibuka untuk Umum: Sejak tahun 2010.
- Fungsi Awal Bangunan: Bekas pusat perbelanjaan.
- Misi Budaya: Menjadi simbol pembauran budaya Tionghoa dan Islam.
- Pusat Pembinaan Mualaf Tionghoa: Saat ini dialihkan ke Masjid Lautze di Jalan Tamblong karena keterbatasan fasilitas di Al-Imtizaj.
- Pelayanan Sosial: Masjid tetap aktif dalam kegiatan pelayanan masyarakat dan menyambut mereka yang ingin masuk Islam.










