29°C
Header Billboard Besar (970x250 / 1100x200)

Menatap Cakrawala dari Titik Nol Pangandaran: Pesona Sunyi Bukit Nanggerang yang Mengetuk Sanubari

Lebih dari sekadar pantai, sudut tersembunyi di Desa Bagolo ini menawarkan harmoni alam pegunungan, laut lepas, dan ketenangan yang magis.

Neng Maya Lestari, S.Pd
Neng Maya Lestari, S.Pd
Wartawan Tasela•Jumat, 9 Oktober 2026 • 11:56 WIB•383x dibaca
Pesona lanskap hijau perbukitan Desa Bagolo dari atas Bukit Nanggerang.
Pesona lanskap hijau perbukitan Desa Bagolo dari atas Bukit Nanggerang.📷 Sumber Terkait
Single Article - Top Banner

KABARTASELA.ID, PANGANDARAN — Selama ini, Pangandaran selalu identik dengan desau angin pantai dan deburan ombaknya yang legendaris. Namun, bagi jiwa-jiwa petualang yang merindukan keheningan, ada sebuah rahasia kecil yang tersembunyi di balik perbukitan hijau Kalipucang. Berdiri gagah di Desa Bagolo, Bukit Nanggerang menawarkan cara berbeda untuk menikmati ujung selatan Jawa Barat, sebuah panorama megah yang merengkuh pegunungan, laut, dan persawahan dalam satu tarikan napas.

Perjalanan menuju puncak bukit ini bagaikan sebuah ziarah alam. Menyusuri jalanan yang menanjak perlahan di antara rimbunnya pepohonan, rasa lelah seketika luruh begitu kaki berpijak di puncaknya. Di sinilah letak Tugu "0 Km" Desa Bagolo dan Pangandaran, sebuah penanda sunyi yang dibangun oleh komunitas lokal sebagai simbol kebanggaan wilayah mereka. Dari titik tertinggi ini, sejauh mata memandang, alam membentangkan lukisan terbaik dari tiga sudut pandang yang berbeda: semenanjung pegunungan Bagolo yang hijau, Samudra Hindia yang biru membentang hingga ke ujung Nusakambangan, serta hijaunya petak-petak persawahan yang masih asri.

Keindahan magis ini diakui oleh Romli, salah seorang tokoh masyarakat Kalipucang. Baginya, Bukit Nanggerang adalah berlian mentah yang menyimpan potensi luar biasa untuk pariwisata alternatif di Pangandaran agar tidak melulu bertumpu pada pesisir pantai saja.

Iklan

"Apalagi yang nggak ada, pesawahan juga ada, tinggal bagaimana pemerintah dapat membuka peluang wisata di sini, bukan hanya pantai saja. Dari atas sini bisa liat panjangnya sungai Citanduy, hamparan laut samudera, deretan pantai Pangandaran, pulau Nusakambangan. Cocok buat camping,"

Pemerintah daerah pun mulai melirik mutiara terpendam ini. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Pangandaran, Dadan Sugistha, menjelaskan bahwa Desa Bagolo kini telah masuk dalam daftar resmi Desa Wisata dan sedang dipantau intensif untuk pengembangan lebih lanjut.

"Kalau desanya, desa Bagolo itu sudah masuk daftar Desa Wisata, maka sedang kami monitor untuk daerahnya. Jadi kalo untuk promosi Kalipucang menjadi lokasi event untuk berbagai komunitas,"

Bagi Anda yang ingin merasakan kedamaian di atas awan kecil ini dan melarikan diri sejenak dari hiruk-pikuk perkotaan, berikut adalah panduan praktis untuk merencanakan petualangan Anda:

  • Lokasi: Desa Bagolo, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran (berjarak sekitar 18 kilometer dari Bundaran Marlin).
  • Rute Perjalanan: Dari Bundaran Masjid Al Jabbar Kalipucang, ambil arah kanan menuju jalur Pantai Karapyak. Begitu sampai di pintu gerbang tiket, tetap melaju lurus tanpa perlu berbelok ke arah pantai.
  • Transportasi: Wisatawan wajib menggunakan kendaraan pribadi (motor atau mobil) karena belum tersedia sarana transportasi umum menuju lokasi. Pastikan performa kendaraan optimal karena kondisi jalanan yang menanjak.
  • Harga Tiket Masuk: Sangat ramah di kantong, pengunjung hanya perlu membayar biaya parkir dan kebersihan sebesar Rp 2.000 per sepeda motor.
  • Aktivitas Menarik: Berkemah (camping) di bawah langit malam, menyaksikan panorama matahari terbit (sunrise), berfoto estetis di Tugu 0 Km, serta menikmati lanskap Sungai Citanduy dan Pulau Nusakambangan dari ketinggian.
Single Article - Bottom Banner
Suka artikel ini? Bagikan ke teman & keluarga:
Bagikan:
Neng Maya Lestari, S.Pd
Penulis Berita

Neng Maya Lestari, S.Pd

Wartawan / Reporter Lapangan
"Wartawan kabartasela.id yang mengeksplorasi keindahan destinasi wisata, tradisi masyarakat adat, dan kekayaan warisan budaya nusantara."
39 Artikel DiterbitkanBergabung Kamis, 20 Agustus 2026

Berita Terkait Lainnya

Komentar Pembaca (0)

Tulis Tanggapan Anda

Sampaikan pendapat Anda dengan bahasa yang santun dan beretika.

Memuat komentar...