29°C
Header Billboard Besar (970x250 / 1100x200)

Membaca Asa di Balik Cipratan Warna: Menelusuri Jejak Estetis Batik Ciprat di Sudut Sukabumi

Kisah hangat dari Sentra Phalamartha, tempat jemari terampil penyandang disabilitas mental merajut kemandirian melalui karya seni yang menembus batas pulau.

Neng Maya Lestari, S.Pd
Neng Maya Lestari, S.Pd
Wartawan Tasela•Sabtu, 3 Oktober 2026 • 11:55 WIB•208x dibaca
Proses pembuatan Batik Ciprat yang estetik oleh warga binaan di Sukabumi.
Proses pembuatan Batik Ciprat yang estetik oleh warga binaan di Sukabumi.📷 Sumber Terkait
Single Article - Top Banner

KABARTASELA.ID, SUKABUMI — Selasar Sentra Phalamartha di Kebon Randu, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, pagi itu diselimuti kehangatan yang berbeda. Semilir angin membawa aroma khas lelehan malam yang berpadu dengan pekatnya cairan pewarna tekstil. Di atas kerangka pipa persegi, selembar kain mori putih terbentang rapi, menanti sentuhan magis dari tangan-tangan yang penuh dengan kehati-hatian.

Mereka adalah para penyandang disabilitas mental, warga binaan penerima manfaat yang kini tengah merajut kembali rasa percaya diri mereka. Di bawah bimbingan penuh kasih, jemari mereka bergerak perlahan, memegang kuas kecil dengan tatapan penuh fokus. Melalui media kain, mereka melukis harapan baru yang kini dikenal luas sebagai Batik Ciprat.

Suasana ruang kreatif ini kian hidup dan berwarna saat puluhan pasang mata mungil dari murid Raudhatul Athfal (RA) Luqmanul Hakim Cibadak ikut bergabung. Kehadiran anak-anak berseragam hijau-putih ini mencairkan suasana. Sebelum warna-warni semarak menari di atas kain, cetakan cap berbahan lempengan seng bermotif kelopak bunga, daun maple, lebah, hingga flamingo ditempelkan menggunakan lelehan lilin malam.

Tak lama kemudian, tawa polos anak-anak pecah saat mereka mencelupkan kuas ke dalam gelas plastik dan mengibaskannya ke udara bebas. Percikan warna ungu, kuning, merah muda, dan cokelat berhamburan secara abstrak di atas serat kain putih, melahirkan pola estetis yang tak beraturan namun menawan. Di sini, tidak ada sekat pemisah; yang ada hanyalah kolaborasi yang hangat dan penuh kegembiraan.

Edeh Rukoyah, Instruktur Batik Sentra Phalamartha, mengamati setiap gerakan dengan senyuman bangga. Baginya, setiap cipratan warna adalah terapi sekaligus jembatan kemandirian bagi warga binaan.

Iklan

"Batik ini warisan bangsa, harus kita jaga bersama jangan sampai diakui negara lain. Di sini prosesnya sudah berjalan sekitar dua tahun, dari kain putih polos sampai bercorak. Karena kondisi warga binaan kami ODGJ, prosesnya tidak bisa dilepas begitu saja. Kami mendampingi setiap hari, bersama-sama mencipratkan warna dan menikmati setiap prosesnya. Kalaupun ada sapuan yang meleset atau kurang pas, justru dari situlah lahir gradasi baru yang membuat hasilnya semakin estetik,"

Ketelatenan ini kini telah berbuah manis. Lebih dari seribu helai kain batik ciprat berukuran 2,15 x 1,25 meter telah melanglang buana ke berbagai penjuru Nusantara, mulai dari Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua dan Nusa Tenggara Timur. Pasar batik ini kian moncer berkat kebijakan Kementerian Sosial yang mewajibkan seluruh pegawainya mengenakan batik ciprat setiap hari Selasa.

Pengalaman berharga ini juga meninggalkan kesan mendalam bagi Ketua PC IGRA Cibadak, Lia Muhafilah, S.Pd.I., yang melihat interaksi ini sebagai pelajaran hidup yang luar biasa bagi anak-anak.

"Anak-anak belajar mengenali identitas bangsanya bukan sekadar dengan memakai baju batik ke sekolah, melainkan menyentuh langsung proses pembuatannya. Mereka melihat sendiri bagaimana kesabaran dan keindahan berpadu. Antusiasmenya luar biasa, bukan cuma muridnya tapi gurunya juga ikut senang,"

Melihat dampak positif tersebut, pihak Sentra Phalamartha berkomitmen untuk terus membuka pintu kolaborasi ini lebar-lebar bagi siapa saja yang ingin belajar.

"Pelatihan vokasional batik ciprat ini sepenuhnya gratis. Masyarakat, sekolah, maupun kelompok disabilitas bisa mengaksesnya. Polanya sangat fleksibel, bisa datang langsung ke sentra kami, atau kami yang melakukan sistem jemput bola ke lokasi pemohon. Kami pernah memberikan pelatihan ke SLB Handayani, LKS, hingga kader Posyandu,"

ungkap Kepala Sentra Phalamartha Kemensos Sukabumi, Febrialdi. Di atas lembaran kain yang kini penuh taburan rona warna-warni, ada pesan bisu yang mendalam: bahwa keterbatasan fisik dan mental tak akan pernah bisa memadamkan indahnya kreativitas seni.

Informasi Praktis & Detail Destinasi:

  • Lokasi Kegiatan: Selasar Sentra Phalamartha Kemensos, Kebon Randu, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
  • Biaya Pelatihan Vokasional: Gratis (Sepenuhnya tidak dipungut biaya untuk masyarakat umum, sekolah, maupun kelompok disabilitas).
  • Metode Pelatihan: Fleksibel (Peserta dapat berkunjung langsung ke sentra, atau mengajukan sistem "jemput bola" di mana tim instruktur akan mendatangi lokasi pemohon).
  • Spesifikasi & Harga Kain Batik Ciprat:
    • Ukuran standar kain: 2,15 x 1,25 meter.
    • Bahan Mori: Rp 155.000 per lembar.
    • Bahan Katun Primisima (lebih halus dan adem): Rp 180.000 per lembar.
Single Article - Bottom Banner
Suka artikel ini? Bagikan ke teman & keluarga:
Bagikan:
Neng Maya Lestari, S.Pd
Penulis Berita

Neng Maya Lestari, S.Pd

Wartawan / Reporter Lapangan
"Wartawan kabartasela.id yang mengeksplorasi keindahan destinasi wisata, tradisi masyarakat adat, dan kekayaan warisan budaya nusantara."
39 Artikel DiterbitkanBergabung Kamis, 20 Agustus 2026

Berita Terkait Lainnya

Komentar Pembaca (0)

Tulis Tanggapan Anda

Sampaikan pendapat Anda dengan bahasa yang santun dan beretika.

Memuat komentar...