KABARTASELA.ID, TANGERANG — Musim kemarau ekstrem yang berkepanjangan memicu lonjakan harga komoditas cabai di Pasar Gudang Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten. Kenaikan drastis ini dipicu oleh terganggunya rantai pasokan dari wilayah penghasil akibat penurunan volume produksi dan kegagalan panen di tingkat petani.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kenaikan harga paling signifikan terjadi pada komoditas cabai rawit merah. Harga jual cabai rawit merah yang semula berada pada kisaran Rp60.000 per kilogram kini melesat hingga menembus angka Rp85.000 per kilogram. Kondisi serupa melanda jenis cabai merah keriting yang merangkak naik dari harga normal Rp40.000 menjadi Rp60.000 per kilogram.
Salah seorang pedagang cabai di Pasar Gudang Tigaraksa, Soleh (46), mengungkapkan bahwa lonjakan harga ini telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir akibat tingginya harga patokan dari pasar induk.
"Kenaikannya beberapa minggu lalu dan itu drastis banget kenaikan harga dari pasar induknya,"
Soleh menerangkan, penurunan pasokan cabai dipicu oleh cuaca ekstrem yang mengganggu siklus budidaya tanaman. Sejumlah petani di wilayah Jawa Barat yang selama ini menjadi pemasok utama dilaporkan mengalami gagal panen akibat kesulitan air selama musim tanam.
"Ya karena ini kan kemarau, kayaknya musim tanam juga susah. Kadang tanamannya juga banyak yang mati,"
Situasi ini berdampak langsung pada omzet para pedagang. Soleh mencatat adanya penurunan pendapatan hingga 30 persen lantaran konsumen memilih memangkas jumlah belanjaan mereka guna menyesuaikan dengan anggaran harian.
"Permintaannya kalau lagi mahal itu turun. Ya orang yang biasa belinya sekilo, sekarang kuatnya paling beli seperempat, setengah kilo. Enggak kuat beli banyak,"
Atas kondisi tersebut, ia mengharapkan adanya intervensi dari pihak pemerintah untuk mengambil langkah nyata dalam menjaga ketersediaan stok serta menstabilkan harga di pasaran, terutama di tengah ancaman kemarau panjang.
Di sisi lain, keluhan senada disampaikan oleh seorang konsumen, Tanti (37). Tingginya harga komoditas bumbu dapur tersebut memaksanya untuk memperketat pengeluaran belanja harian demi memprioritaskan kebutuhan pokok keluarga lainnya.
"Kalau bisa mah dikurangin harganya karena kebutuhan juga banyak, belum buat anak-anak, belum buat yang lain,"










