Kapolres Tasikmalaya Kota, AKBP Andik Eko Siswanto, membenarkan penangkapan ketiga terduga pelaku. Berdasarkan pemeriksaan awal, para pelaku merupakan rekan sesama anak jalanan dan pengamen di wilayah Tasikmalaya.
"Masih dalam penyelidikan, diamankan sudah tiga orang, korban satu orang, dan mereka berteman sesama anak jalanan atau pengamen," ujar AKBP Andik Eko Siswanto saat dikonfirmasi via telepon, Kamis (24/9/2026).
Dari hasil pendalaman sementara, korban dan para pelaku saling mengenal satu sama lain. Korban dianiaya hingga mengembuskan napas terakhir menggunakan instrumen gitar akustik yang sebelumnya ditemukan polisi di Tempat Kejadian Perkara (TKP) dalam kondisi rusak hancur.
"Iya saling kenal, dan korban dipukul pake gitar. Kami masih mendalami, takutnya malah makin jauh. Masih lidik yah keterkaitannya, kita juga masih cari dan belum rilis. Kalau sudah clear nanti kita rilis," terang Kapolres.
Penyidik Satreskrim Polres Tasikmalaya Kota saat ini masih memeriksa para pelaku secara intensif guna mengungkap motif pasti di balik aksi penganiayaan tersebut.
Sebelum para pelaku diringkus, identitas korban yang semula berstatus Mr. X akhirnya terungkap. Pihak keluarga mengenali korban setelah membaca pemberitaan media lokal terkait ciri-ciri fisik dan tato bertuliskan "AMEEL" serta "DESSI" di tubuh korban.
Mantan adik ipar korban, Atep Trisna (33), mengonfirmasi bahwa korban bernama Sendi alias Faisal, seorang pengamen asal Purwakarta yang memiliki tiga orang anak. Sebelum ditemukan tak bernyawa di bawah meja ruko Pasar Ciawi pada Kamis pagi, korban sempat mampir dan menginap di rumah kerabatnya di kawasan Parakan Honje (Parhon), Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya.
Saat ini, ketiga terduga pelaku bersama barang bukti telah diamankan di Mapolres Tasikmalaya Kota guna menjalani proses hukum lanjutan.










