KABARTASELA.ID, KAB. TASIKMALAYA — Krisis air bersih akibat musim kemarau terus meluas di wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya hingga awal Oktober 2026, tercatat sebanyak 83 desa di 34 kecamatan mengalami kekurangan air bersih yang bersumber dari 139 laporan yang diterima oleh pihak BPBD setempat.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Roni AKS, mengungkapkan bahwa pihaknya berupaya maksimal untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga yang terdampak. Hingga kini, BPBD telah menyalurkan air bersih sebanyak 787.000 liter yang diperuntukkan bagi 141.797 jiwa.
"Permintaan terbanyak dari Kecamatan Bojonggambir sebanyak 16 kali disusul Kecamatan Tanjungjaya sebanyak 12 kali penanganan," kata Roni, Sabtu (10/10/2026).
Roni berharap, meski curah hujan diprediksi baru akan turun secara signifikan pada Desember mendatang, kebutuhan air bersih warga dapat terus terpenuhi. Kendati demikian, ia mengakui bahwa pihaknya memiliki keterbatasan armada kendaraan tangki yang saat ini jumlahnya hanya tersedia dua unit.
Keterbatasan armada tersebut semakin terasa berat karena operasional kendaraan tangki sering kali harus dibagi dengan kegiatan suplai air untuk penanganan kebakaran. Dampak fenomena cuaca turut meningkatkan kejadian kebakaran rumah, lahan, dan hutan secara cukup masif di wilayah Kabupaten Tasikmalaya.
Lonjakan Kasus Kebakaran di Tasikmalaya
Selain krisis air bersih, BPBD Kabupaten Tasikmalaya juga mencatat adanya lonjakan kejadian darurat lainnya. Hingga awal Oktober 2026 ini, sedikitnya telah terjadi 101 kejadian kebakaran yang menimbulkan kerugian material berupa 74 rumah terbakar.
Tidak hanya bangunan rumah warga, musibah kebakaran lahan juga melanda berbagai wilayah. Bahkan, amukan si jago merah sempat membakar lahan seluas 10 hektar di kawasan hutan jati Cipatujah, menambah daftar panjang tantangan penanganan darurat kebencanaan di Priangan Timur ini.










